Rabu, 10 Oktober 2012

Filsafat Agama Buddha



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Buddhisme belakangan menceritakan beberapa perkembangan sekolah-sekolah abhidharma dan Mahayana yang ditelusurui samapai ke masa sang Buddha sendiri. Skolatisme merupakan sekolah awal yang berkembang. Walaupun asalnya dapat ditelusuri sampai pada periode awal ,diperlukan beberapa waktu agar tradisi-tradisi ini dapat mengkristal pada sekolah-sekolah yang utama. Namun komplikasi kitab Abhidharma pitaka dan sutra-sutra Mahayana awal telah menyusul setelah finalisasi nikaya pali dan Agama yang belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.
Gambaran lengkap dari buddhisme awal di bentuk dari sutta-sutta, sehingga muncul dua tradisi utama yaitu Hinayana dan Mahayana. Analisis doktrin Buddha awal secara sendiri-sendiri tanpa menggunakan perspektif hinayana ataupun Mahayana. Dalam buddhisme belakangan mengenai doktrin-doktrin yang dikatakan oleh Nagarjuna atau Vasubandhu atau Buddhagosa. Hasilnya adalah penolakan absolutisme dan Transendentalisme seperti bentuk yang dikenali oleh kaum Hinayana ataupun kaum Mahayana.
Garis besara pada masa buddhisme belakangan yang terjadi pada pemikiran kaum Buddha  dikarenakan oleh konsep  dasar filosofisnya  yang sudah berkembanga baik sebelum Buddhisme meninggalkan pantai dan batas india.  Yang dibahas bukanlah sekolah-sekolah belakangan ini melainkan aspek dari Buddhisme zen, dimana zen merupakan suatu perkembangan di ciana yang lain dari pada yang lain yang memiliki pandangan yang bersajak konsepsi yang sama sekali salah tentang apa yang diajarkan Sang Buddha.
Dari masalah dan beberapa ulasan diatas maka Penulis tertarik untuk membahas beberapa perkembangan dan doktrin-doktrin masa Buddhisme belakangan.
BAB I I
PEMBAHASAN
  1. AWAL SKOLATISME DAN MAHAYANA
Pertemuan tentang pengumpulan sutta menandakan awal dari skolatisisme seratus tahun pertama setelah kematian Sang Buddha barangkali menyaksikan pengumpulan dan pengkelasan seluruh kumpulan-kumpulan sutta-sutta menjadi lima kelompok (nikaya), sedangkan sebagian besar peraturan (vinaya), Masuk dalam kelompok tersendiri. Kegiatan skolastik tidak berhenti sampai disini saja, melainkan penelaahan kumpulan suta ini yang coraknya dicirikan oleh penggunaan kiasan. Anekdot, ilustrasi, dan pengulangan yang terus menerus, ini dipakai pada saat ajaran-ajaran yang dikuatirkan akan disalah tafsirkan, jadi dari sutra dan cirinya diatas digunakan untuk mencegah adanya salah tafsir dari ajaran-ajaran Sang Buddha, dalam ajaran ini ditemukan daftar ajaran yang penting yang diturunkan dari mulut kemulut.
Peristiwa kedua dalam kematian agung adalah ratapan para dewa dan manusia (termasuk ananda yang belum mencapai kearahat). Manusia atau umat awam pada umumnya dikuasi oleh emosi-emosi walaupun emosi cenderung mengaburkan pencerapan akan kebenaran dan seharusnya dikendalikan untuk mencapai tahapan perkembangan spiritual yang lebih tinggi. Namun emosi keagamaan dapat memberikan nuansa baru bagi kehidupan umat awam dan mampu memperbaiki nasip spiritualnya. Sang Buddha menunjukan bahwa umat yang memiliki keyakinan, para bikkhu dan bikkhuni, upasaka-upasika, yang mungkin akan menjunjung keempat tempat yang mungkin akan menjunjung tingkat emosi ini. Jadi kedua sikap ini yang yang memperlihatkan sikap siswa Sang Buddha yang harus memiliki banyak keyakinan dan tidak memiliki emosi yang tinggi dan harus memiliki emosi keagamaan yang tinggi untuk menjunjung keyakinan spiritual yang tinggi dan memiliki nuansa yang baru, dan tidak lepas dari ajaran Sang Buddha yang telah diajarkan beliau sebelum parinibana.

  1. SKOLATISME THERAVADA, SARVASTIVADHA, DAN SAUNTRATIKA
Skolastisisme dalam buddhis ini timbul seperti yang telah dijelaskan dalam bab delapan yaitu karena adanya kebutuhan untuk mengajarkan ajaran-ajaran Sang Buddha dan tidak memberikan kesempatan pada timbulnya perpecahan. Dari hal ini ada salah satu cara yang dipakai untuk keperluan ini yaitu untuk mengajarkan ajaran-ajaran Sang Buddha seperti yang terdapat dalam Sangiti-sutanta yang tidak menimbulkan ketidak sepakatan. Dari hal ini metode yang digunakan Sang Buddha yang sering digunakan telah dirubah yang semula menggunakan anekdot, kiasan dan metafora yang semula gaya ini digunakan dengan gaya memutar, langsung dan sekarang menggunakan istilah yang telah dipilih dan yang telah mementingkan ketepatan yang merupakan ciri dari abiddharma.
Bab ini merupakan perbedaan awal antara suta dan pembahasan skolatisisme, yaitu sebagai contoh sutta dipandang sebagai ajaran-ajaran yang popular sedangkan abiddharma dipandang sebagai uraian tentang realitas terahir dari hal inilah yang merupakan perbedaan yang lebih mengacu kepada masalah gaya, tetapi yang berakibat terhadap perbedaan menyangkut isi dari ajaran yang sesungguhnya.
Kaum sautrantiaka menerima doktrin-doktrin tentang saat yang diketemukan dalam tiga sekolah., dan doktrin ini tidak dapat diketemukan dalam tradisi Theravada-prabuddhagosa. Sebagai akibat diterimanya teori saat para cendikiawan dihadapkan pada persoalan filsafat yang menimbulkan perbedaan-perbedaa yang nyata yaitu mengenai masalah pencerapan dan kausalitas, jadi kauma sauntratika setelah menerima doktin-doktrin tentang saat menemukan suatu perbedaan mengenai pencerapan dan kausalitas
Substansi ini dapat disimpulkan bahwa semuanya adalah pencerapan mengenai enam landasan indra adalah tidak langsung dan kaum sarvastivadin menjunjung suatu teori adalah obyek pencerapan suatu agregat, sedangkan kaum sautrantika menuntut bahwa obyek luar tidak  langsung juga dapat disebut sebagai teori atom. Setelah menerangkan teori saat dan para cendikiawan mengalami kesulitan maka timbulah konsepsi tentang substansi, kaum abiddharma menerangkan konsep ini sebagai problem kesinambungan dan fenomena  yang telah diuraikan menjadi keberadaan yang bersifat sesaat.
Jadi suatu metode dalam suatu pengajaran akan berpengaruh dalam suatu perkembangan karaena, tiap pencerapan dari tiap orang selalu berbeda dan pencerapan yang diterima akan selalu dikembangkan untuk menjadi sesuatu yang baru.

  1. PERKEMBANGAN MAHAYANA
Mahayana merupakan kulminasi dari spikulasi (pendapat atau keadaan yang tidak berdasarkan kenyataan) dari keadaan sebenarnya sang Buddha,dan spekulasi ini sudah meluas semasa kehidupan sang Buddha. Dalam angutara-nikaya ada pertanyaan yang mengenai siapakah sang Buddha, Buddha menjawab bahwa beliau bukan dewa, maupun gandhaba , manusia atau yakha, tetapi implikasi yang dinyatakan sang Buddha adalah, sang Buddha telah menghapus keinginan rendah dan kemelekatan akan segala sesuatu yang ada didunia, dan beliau tidak dapat dijelaskan sebagai orang yang masih memiliki hal tersebut, jadi sang Buddha adalah orang yang sudah tidak memiliki keinginan nafsu rendah atau terbebas dari segala penderitaan.
 Secara historis kemunculan Mahayana dimulai sejak Sang Buddha Parinirvana (544 atau 487 SM ), dan menjadi hampir lengkap pada abad pertama. Selama setelah parinirvananya Sang Buddha dan menjelang abad tersebut bermuncullah aliran-aliran pikiran dalam agama Buddha. Oleh karena itu kemunculan Mahayana perlu dilihat dari adanya konsili-konsili. Pada konsili kedua di kota Vesali pada pemerintahan raja Kalasoka. Diadakan mengingat munculnya beberapa masalah berkenaan dengan Dhamma dan Vinaya yang menimbulkan beberapa perpecahan kemudian muncul dua golongan yaitu Mahasangika dan Sthaviravada.
Konsili keempat pada tahun 78 M di Khasmir yang dipimpin oleh Vasumitra dan Asvaghosa yang diselenggarakan atas anjuran raja Kanishka merupakan titik awal dari perkembangan Mahayana dan pada konsili ini tidak dihadiri oleh golongan Sthaviravada (sesepuh Theravada). Mahayana merupakan kulnimasi dari spekulasi yang berkenaan dengan keadaan yang sebenarnya dari Sang Buddha. Spekulasi ini amat meluas bahkan semasa kehidupan Sang Buddha. Dalam Anguttara Nikaya untuk menjawab siapakah Buddha? Sang Buddha, menyatakan dirinya sebagai bukan dewa, gandhaba, atau yakkha atau manusia. Tahap permulaan dari perkembangan Mahayana ada dua doktrin yang tumbuh.    Pertama adalah doktrin kemajemukan Buddha-Buddha yang mengarah ke konsepsi monisme transendental seperti yang diwakili oleh istilah-istilah seperti Tathata dan dharmakaya pada kitab-kitab Mahayana.    Kedua adalah doktrin tentang mahkluk yang sedang menuju penerangan sempurna (Bodhisattva).
Walaupun  konsepsi transendental Buddha, begitupun konsepsi yang diperluas dari Bodhisatva dikembangkan dalam lingkungan tiga tradisi yaitu theravada, sarvastivada dan lokuttaravada. Usaha sengaja untuk merendahkan dan menurunkan status ideal arahat yang ada pada masa awal baru muncul dengan datangnya sad-dharmmapundarika “teratai ajaran kebenaran. Perkembangan konsepsi Buddha mulai dari konsepsi bodhisattva mencapai titik akhirnya pada literatur prajnaparamita. Istilah prajnaparamitha berarti ‘ kesempurnaan  kebijaksanaan’ dan literatur ini dikatakan demikin karena mengkhususkan diri dalam membentangkan keadaan sebenarya dari pengetahuan tertinggi atau penerangan sempurna (samyaksambodhi. Pengetahuaan yang tak mendualah (advaya) yang terbebas dari diskriminasi (nirvikalpa). Ia yang menyadari ini akan menjadi seseorang yang berkesadaran. Buddha merupakan perwujudan dari pengetahuaan ini. Tubuh yang di gunakan adalah tubuh dharma (dharma-kaya), tubuh yang sebenarnya di bandingkan dengan nirmana-kaya yang sekedar bayangan atau tubuh transformasi. Ia identik dengan realitas terakhir, yang demikian. Ia tak terucapkan dan di luar jangkauan analisis logika.
Bodhisatva menurut definisi Mahayana adalah orang yang menunda pencapaian nirvana agar dapat berlanjut terus dalam samsara dengan harapan dapat menolong semua mahkluk menyeberangi arus kehidupan. Sementara dipihak lain Bodhisatva haruslah seorang yang memiliki pengertian atau kebijaksanaan mempunyai minat atau motivasi. Altruisme atau pelayanaan tanpa mementingkan diri sendiri merupakan ideal yang mempesonakan. Pengorbanan kebahagiaan orang untuk kesejahteraan yang lainnya secara umum dipandang sebagai ideal yang mulia pada setiap masyarakat. Hal ini memperlihatkan bagaimana kaum mahayana, dengan menolak ideal Arahat sebagai sesuatu yang rendah dan kurang bermutu dan dengan menyajikan suatu ideal yang lebih luhur dari pelayanan tanpa mementingkan diri sendiri. Menurut Hui-Neng ”jika anda berharap untuk mengubah orang yang dungu, anda harus memiliki kebijaksanaan

  1. TRANSENDENTALISME MADYAMIKA
Dalam transendendentalisme madyamika dijelaskan bahwa sang buddha maupun nagarjuna menerima realitas tertinggi di luar jangkauan indra biasa, sesuat yang absolut yang tidak terungkapkan dengan konsep. Teori kausal seperti sebab-akibat-sendiri  dan sebab-akibat-eksternal tidak akan berhasil menerangkan kenyataan kenyatan yang empirik dan khususnya terhadap yang diluar jangkauan manusia
Kausalitas menurut Nagarjuna adalah relativitas ini adalah sinonim kekosongan (sunyata) menurutnya; ”setiap dharma adalah relatif. Karenannya setiap dharma juga kosong. Tak ada dharma yang relatif, karenanya tak ada dharma yang tak kosong.Jika ada dharma yang tak kosong, ia tidak dapat terjadi secara bersyarat. Oleh karenanya, jika seseorang menerima ketak-kosongan (asunyata), orang itu juga menerima ketak-relatifan, dan sebagai akaibatnyaorang itu harus menerima kemunculan dan kehancuran, ia tak dapat menerima Empat Kebenaran Mulia”.
Untuk nagarjuna Substansi merupakan prinsip bersifat metafisika seperti diri untuk buddha atau jiwa untuk upanisad. Candrakirti yang menelaah lebih lanjut kritikan nagarjuna, menunjukkan bahwa jika substansi atau sifat bawaan dari akibat dapat ditemukan pada sebab  produksi akan menjadi tak berati  karena ia kemudian hanya menjadi sekedar duplikasi sendiri bukan kemunculan suatu faktor yang lebih mencolok yang belum pernah ada sebelumnya.
 Jadi dalam transendentalisme madyamika menjelaskan tentang suatu keadaan yang absolute. Sesuatu yang tidak dapat di jangkau oleh indra atau pemikiran manusia sendiri. Tidak dapat di personifikasikan. Seperti perolehan dalam pencapaian kebuddhan tentang pencapaian realitas terakhir yang tak terumuskan atau tak terungkapkan melainkan mengajukan suatu tesis  sendiri menurut istilah-istilah yang tepat dan sesuai.

  1. IDEALISME YOGACARA
Latihan Yoga atau dinamakan Yogacara  yaitu pemahaman yang tertinggi yang mana hanyalah kesadaran yang tak membedakan tanpa dikotomi subyek-obyek.
Dalam Idealisme yogacara dijelaskan bahwa pengikut dari aliran ini adalah kaum Sauntratika. Kaum Sauntratika memiliki pendapat mengenai suatu obyek yang tidak dapat kontak dengan alat indra secara langsung karena obyek itu tanpa durasi. Sumbangan pemikiran juga disokong oleh kaum madyamika bahwa bahwa kaum yogacara tidak menunjuk realitas apaun bahwa mereka adalah kosong dari isi atau mereka tidak mengungkap keadaan sebenarnya dari fenomena.kaum madyamika memiliki pendapat bahwa pikiran atau kesadaran adalah nyata. Karena yang absolute dipandang sebagai suatu yang tank mendua (advaya) dan non konseptual dan yang sebagai suatu pengalaman duniawi yaitu dengan diselami pada tingkat kegiuran yoga tertinggi yang hanyalah kesadaran yang tidak membedakan tanpa sutu dikotomi subyek-obyek.
Vasubandhu berpendapat mengenai konsep Tiga dunia yang merupakan gagasan belaka, menurutnya akal, pikiran, kesadaran dan gagasan  adalah sininim. Obyek eksternal hanyalah penampakan, seperti persepsi akan rambut diudara dan persepsi ganda dari orang yang matanya terkena penyakit.  Suatu obyek kelihatan meliput atau menduduki suatu ruangan tertentu dan jika ia hanya buatan pikiran ia akan terlihat berbeda, tidak hanya ditempat tertentu tetapi juga dimana tempat kemana pikiran ditujukan, suatu obyek ketika seseorang memperhatikan tidak ketika orang melihatnya . jika suatu obyek merupakan buatan ikiran maka penetapan menurut waktu seperti itu akan jmenjadi keterangan yang tidak memuaskan dan suatu kesadaran yang diterima tidak dapat diterangkan bila seseorang menyangkal akan suatu keadaan keberadaan yang nyata dari obyek eksternal . jika suatu obyek hanya merupakan cerminan mental ,maka kegiatan yang membuahkan (krtya-krya) yang disebabkan obyek tidak dapat diterangkan.
Contoh seperti seseorang yang lapar dan ia akan makan , seseorang merasakan lapar dan membayangkan ia ingin kenyang dan ingin makan. Pikiran berproses dan seseorang memikirkan maka rasa lapar itu akan semakin bertambahkarena pikiran berproses pada obyek lapar dan membayangkan makanan. Rasa lapar akan menjadi tidak lapar apabila kita bertindak untuk makan mengambil makanan dan tidak hanya menghayal. Untuk mengatasi rasa lapar tidak hanya dengan langsung mengambil makanan tetapi kita juga dapat mengalihkan pikiran. Rasa lapar dan semakin lapar juga terpengaruh karena kondisi pikiran kita yang membayangkan rasa lapar itu.
Sebagai contoh lain ketika seseorang melihat bendera yang berkibar, saat itu orang memandang antara satu dengan yang lain berbeda ada yang menjawab karena angin, ada yang menjawab karena adanya bendera berkibar sebenarnya itu karena pikiran kita saja yang merespons atas apa yang kita lihat sesuai dengan indra yang melihat suatu obyek sehingga munculah suatu pemikiran. Ketika orang tidak memperhatikan akan kibaran bendera maka tidak akan adanya suatu jawaban tentang bagaimana bendra itu bergerak.
Dalam sudut kegiuran yoga tertinggi terdapat suatu bentuk kesadaran murni yang membedakan , pengalaman indra yang dicirikan oleh perbedaan subyek obyek yang Nampak sebagi khayalan  seperti mimpi yang merupakan suatu khayalan kesadaran yang telah terbangkit. Jadi segala sesuatu yang ada yang didapat atau di cerap oleh indra akan menghasilkan suatu persepsi atau suatu hal yang berkondisi sesuati dengan suatu kesadaran kerja proses berfikir dalam diri manusia




  1. LAMPIRAN I
METAFISIKA DAN SANG BUDDHA
Keseragaman kausal dan kesinambungan kepribadian manusia yang dipandang metafisik dalam filsafat modern tidak dipandang demikian dalam buddhisme awal.
Ada beberapa pertanyaan yang sering sang Buddha tidak menjawabnya baik mengenai pertanyaan keluasan alam semesta , keadaan sebenarnya dari jiwa atau diri dan keadaan dari arahat setelah mati yang bersifat metafisik. Pandangan metafisik yang dijelaskan dalam bab ini adalah bagaiman mencari tau yang jauh dari jangkauwan kemampuan kita dari hasil prediksi dari tiap para ahli atau fisuf. Banyak para ahli yang mencoba untuk menyedikan jawaban-jawaban atas pertanyaan metafisika yang belun tau jawaban sebenarnya.
 Sang Buddha memandang bahwa pertanyaan-pertanyan itu adalah pertanyaan yang menyesatkan karena akan mengacu pada ke konsep ke akuan, segala sesuatu memiliki proses dan prose situ serta pengalaman yang akan memberikan jawaban. Seseorang memiliki persepsi yang sendiri-sendiri sesuai sudut pandang dan pengalaman yang ia peroleh. Tiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda memiliki penalaran serta pengalaman yang berbeda-beda. Tidak seperti dalam metafisika yang kita anut berdasarkan pandangan dan pengalaman orang lain.
 Metafisika hanya memandang berdasarkan eksperimen yang dilakukan oleh para ahli yang menyatakan hasil dari beberapa pertanyaan yang nantinya akan dijadikan sebuah teori yang berasal dari jawaban ekperimen pengalaman orang lai yang bersifat prediksi atau belum pasti. Dalam ajaran sang Buddha berdasarkan bacaan sang Buddha tidak memandang semua itu sebagi sesuatu yang hanya di pandang berdasarkan tafsiran tetapi suatu kenyataan yang didapat kan sendiri berdasarkan hasil dari sebuah realita yang dialami sesuai dengan pengalaman yang didapatkan sendiri.
  1. RENUNGAN TENTANG HUBUNGAN ANTARA BUDDHISME AWAL DAN ZEN
Buddhisme Zen berbeda dari buddhisme awal dalam kaitanya dengan pertama tetapi bersesuaian dengannya dalam kaitanya dengan yang belakangan.
Dalam Zen, yang dimana Zen adalah Ch’an dalam bahasa mandarin yang berarti Dhyana atau meditasi. Ajaran Zen sangat popular di tiongkok. Zen lebih terpusat pada praktek. Segala sesuatu telah dilakukan dibuktikan dengan praktek. Bab ini menjelaskan mengenai Zen yang sering percaya adanya suatu penjelasan pada kitab-kitab dan menolaknya. Ajaran zen memiliki suatu pengertian prinsip yaitu tidak tergantng kepada kata-kata surat, menunjukan langsung kepada batin manusia, melihat keadaan diri sendiri sebenarnya, dan pencapaian kebuddhaan.
 Dari prinsip yang dianut dalam zen mereka lebih menekankan pada suatu kenyataan yang dialami berdasarkan atas pembuktian pengalaman mereka sendiri. Mereka melihat kedalam dalam diri mereka sendiri dan mereka ingin membuktikan suatu kenyataan itu sendiri berdasarkan pecapaian yang mereka lakukan sendiri. Mereka tidak membutuhkan teori yang hanya teori belaka maka dari itu Zen merupakan suatu aliran yang istimewa dengan menjalankan atau membenarkan segala sesuatu sesuai dengan kenyataan pengalaman sendiri.
Dalam buddhisme awal sang Buddha memiliki pendapat yang terdapat pada angutara nikaya  dengan melambangkan empat tipe individu dan membandingkan mereka dengan tipe-tipe awan hujan.empat perumpamaan itu adalah sebagai berikut:
1.      Seorang yang membaca (Bhasita) tetapi tidak melatih diri (no katta) adalah seperti awan tampa hujanyang mengguntur (gajjita) tetapi tidak mencurahkan hujan  (no vasita)
2.      Seorang yang melatih diri (katta) tetapi tidak membaca (bhasita )adalah seperti awan tanpa hujan yang mencurahkan hujan (vassita) tetapi tidak menguntur  (no gajjita).
3.      Seorang yang membaca atau pu melatih diri (n’eva bhasitha no katta) adalah seperti awan hujan yang tidak menguntur ataupun mencurahkan hujan (na eva gajjita no vassita)
4.      Seorang yang membaca maupun melatih diri (bhasita ca katta ca) adalah seperti awan hujan yang mengguntur dan mencurahkan hujan (gajjita ca vassita ca)
 Sang Buddha mengajak seseorang tidak hanya mengerti akan suatu teori saja melainkan juga praktek. Praktek tetapi menggunakan metode yang akan menimbulkan penderitaan seperti waktu sang Buddha akan mencapai suatu penerangan beliau menyiksa diri secara ekstrim meditasi itu tidak akan mendapatkan suatu pencerahan kebuddhaan tetapi semua itu perlu juga danya suatu teori yang akan menuntun dalam suatu pembenaran, dan  apabila orang hanya memandang sebuah teri atau praktek seseorang tidak akan mendapatkan apaun karena tidak semua pengalaman atau persepsi dari seseorang itu sama.
Jadi pada masa Buddha awal adalah sebuah gambaran dan seiring dengan perkembangan jaman maka disesuaian dan sebuah pengalaman atau kenyatan tidak hanya berdasarkan teori atau praktek dari orang lain melainkan diri sendiri agar mendapatkan suatu kebenaran yang akan menganggakt suatu hasil yang realistis.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat tentang segala yang ada, sebab , asal dan hukumnya atau teori yang mendasari alam pikiran ataun suatu kegiatan atau ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika dan epistimologi sering disebut dengan falsafah.
Gambaran lengkap dari buddhisme awal di bentuk dari sutta-sutta, sehingga muncul dua tradisi utama yaitu Hinayana dan Mahayana. Analisis doktrin Buddha awal secara sendiri-sendiri tanpa menggunakan perspektif hinayana ataupun Mahayana. Dalam buddhisme belakangan mengenai doktrin-doktrin yang dikatakan oleh Nagarjuna atau Vasubandhu atau Buddhagosa. Hasilnya adalah penolakan absolutisme dan Transendentalisme seperti bentuk yang dikenali oleh kaum Hinayana ataupun kaum Mahayana.

B.     Saran
Semoga makalah ini dapat membantu dan menambah pengetahuan bagi pembaca. Dan kiranya pengetahuan filsafat tentang pemikiran logis dapat tercerap dalam setiap indifidu sebagai pengetahuan dan penuntun dalam kehidupan yang kita hadapi.





DAFTAR PUSTAKA

Kalupahana. David J. 1986. Filsafat Buddha. Jakarta: Erlangga



1 komentar: